Berita Terbaru

99 Ulama Brebes Mantap Berikan Dukungan Pasangan Agung - Athohilah


Para TOKOH ulama Brebes dalam suasana silaturahmi.(Ft:Mak Mur/kl)

12 September 2012 / 18:58

Koranlokal.com, ( Brebes)- Sebagai panutan umat, ulama Kabupaten Brebes tidak tinggal diam dalam menyikapi pemilukada Brebes. Hal ini perlu dilakukan agar umat bisa terayomi dan tetap teguh dalam satu aqidah ahlusunnah wal jamaah (Aswaja). Sebab aqidah itu ibarat tiket menuju pintu rahmat Allah SWT, berupa surga. Kalau tiketnya keliru maka akan batal masuk kedalamnya.

“Kami ingin menyelamatkan paham Aswaja dan membentengi umat dari pengaruh paham Wahabi,” ujar pengasuh pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul KH Syeh Sholeh Basalamah selaku tuan rumah Silaturrahmi Ulama Se Kabupaten Brebes belumlama ini.

Menurutnya, pemimpin suatu daerah sangat berperan dalam menentukan kebijakan keagamaan, meskipun negara kita bukan negara agama. Seperti kasus Bandung, ketika kepala daerahnya tidak berpihak pada paham Aswaja, maka segala kebijakannyapun sangat merugikan umat yang berhaluan Aswaja. “Itu niatan awal kami, mengapa para ulama Brebes bersatu, satu komando dalam menyikapi Pemilukada Brebes,” tandasnya.

Sebanyak 99 Ulama Khost Brebes berkumpul di Ponpes Darussalam guna menyikapi perhelatan akbar pemilukada Brebes 7 Oktober mendatang. Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut keputusan 9 Ulama Khost di Hotel Riez Tegal beberapa bulan yang lalu.Pengasuh pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes KH Subekhan Makmun menandaskan, pemilukada Brebes dipandangnya sebagai pemilu yang istimewa bagi Brebes. Karena adanya dua kekuatan moral dan dolar. “Ulama harus berpihak pada kekuatan moral, jangan sampai moral umat Islam Brebes diporakporandakan. Harga diri dan jatidiri warga Brebes harus kita pertahankan,” ucapnya.

Menurut Kiai Subekhan, kalau moral sudah dianggap tidak berarti lagi maka yang menjadi korban adalah anak cucu kita, bukan kita yang hidup saat ini. “Kebobrokan moral akan melanda Brebes kalau moral sampai tergadaikan dalam Pemilukada Brebes,” ujarnya. Era sekarang, lanjutnya, peran Kiai dalam pembangunan bangsa peranannya bukan saja sebagai daun salam, yang hanya berperan sebagai pelengkap bumbu masak saja. “Tetapi harus menjadi garamnya negara, yang bisa menentukan hambar dan asinnya peradaban, menjadi ruh dalam pembangunan bangsa,” tandas Kiai Subekhan.

Senada dengan Kiai Subekhan, pengasuh pesantren Al Hikmah 1 Benda Sirampog KH Labib Sodiq menuturkan, ulama berkewajiban mengangkat pemimpinnya. Dalam kaitan ini, Ulama Brebes menandaskan memberi amanat kepada H Agung Widyantoro SH MSi dan H Athoillah SE MSi sebagai Bupati dan Wakil Bupati Brebes periode 2012-2017. Wong Jakarta misalnya, lanjut Kiai Labib, meskipun sugih, ya tetap ora bisa ngatur Brebes. Sebab tidak tahu karakteristik masyarakat Brebes. Apalagi dilakukan dengan arogan, memusuhi dan tidak mengedepankan moralitas. “Rosulullah berhasil menjadi pemimpin karena mengedepankan moralitas,” tegasnya. Sementara Rais Syuriyah PC NU Brebes KH Aminudin Mashudi menandaskan, moralitas pemimpin sangat menentukan moralitas rakyatnya juga. “Kalau lurahnya puasa, maka rakyate ya puasa. Lurahe sholat, ya rakyate sholat,” imbuhnya.(Whd_KL/R1)

 

   

 
Copyright © 2009 www.koranlokal.com
Jl. Mayjend Sutoyo No. 35 Tegal
Komplek Pasific Mall Lt. 1